HAJJ: a Pilgrimage or a Tour ??
Beberapa hari yang lalu saya dikejutkan oleh salah satu iklan di TV tentang ibadah Haji. Kurang jelas apakah iklan tersebut dikeluarkan oleh Dept Agama atau bukan, tapi salah satu naratornya adalah Ketua MUI yang sedang menjabat saat ini. Inti dari iklan tersebut kira-kira “walaupun jaraknya jauh, walaupun tinggi biayanya, kalau ikhlas akan terasa indah dan Insya Allah mabrur”dan ending-nya “Sucikan hati, mabrurkan haji”. Jujur, saya sangat tersentak melihat iklan tersebut. Dalam hati saya bertanya, sebenarnya, apa maksud dari dipublikasikannya iklan ini? Agar kita berbondong-bondong melaksanakan ibadah Haji? Agar umat Muslim Indonesia dapat menggenapkan ibadahnya dengan berhaji? Agar bangsa ini menjadi lebih manusiawi selepas berhaji? Atau agar pemasukan pemerintah bertambah dari ongkos haji? Sudah sedemikian komersilkah suatu Lembaga Keagamaan?
Menurut saya, sangat disayangkan kalau lembaga tertinggi di negri ini yang menaungi segala hal tentang Islam justru malah menggembar-gemborkan ibadah hanya secara ritual dan praktikal. Bukankah lebih baik bila Dept. Agama atau MUI justru mensosialisasikan inti dan makna dari ibadah tersebut? Apakah gelar “Mabrur” benar-benar dapat diraih hanya dengan “ikhlas” mengeluarkan uang sejumlah $3000 - $5000 untuk pergi ke “Tanah Suci”? Apakah Mabrur yang dicari para jemaah Haji kita? atau sekedar ingin melihat secara langsung Masjidil Haram dan situs-situs Islam lainnya di Arab Saudi?
Benarkah “Tanah Suci” notabene hanya milik Mekkah?? Benarkah segala do’a yang dilontarkan di “Tanah Suci” mustajab?? Kalau memang benar demikian, saya rasa, semua jiwa akan meminta untuk dilahirkan di Mekkah… dan tiap jiwa yang dilahirkan di tempat lain akan menuntut keadilan pada Sang Khaliq…
Ada kisah tentang Mabrur yang cukup populer di kalangan umat muslim Indonesia. Sekedar refreshing, sekali lagi kita simak kisahnya…Kisah ini dikemas dalam percakapan antara Nabi Muhammad dengan malaikat Jibril yang menanyakan berapa banyak umat beliau yang Mabrur ibadah Hajinya tahun ini. dan jawabannya adalah “hanya satu orang”. Yaitu seorang tukang sepatu yang sebenarnya pun tidak sampai ke Mekkah. Ia memang melakukan perjalanan menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, tetapi dalam perjalanannya Ia bertemu dengan banyak orang yang membutuhkan pertolongan. Salah satunya adalah seorang Ibu yang sedang memasak di depan rumahnya, yang sebenarnya tidak layak disebut “rumah” karena kondisinya yang sudah sangat tidak layak huni. Ibu tersebut dikelilingi oleh tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil. Ketika Ia melihat ke dalam tungku yang sedang dirajang diatas perapian, ternyata Ibu tersebut sedang memasak batu! Ketika ditanya mengapa Ia memasak batu, sang Ibu menjawab, karena anak-anaknya sudah kelaparan dan mereka tidak punya apa pun untuk dimakan, maka sang ibu berpura-pura memasak untuk menenangkan hati ketiga anaknya. Sementara anak-anaknya menunggu dengan sabar masakan ibunya matang, sang ibu terus memanjatkan doa agar diberi pertolongan oleh Tuhan agar anak-anaknya tidak kelaparan. Dan tanpa ragu, tukang sepatu ini pun langsung memberikan sebagian bekalnya untuk perjalanannya ke Mekkah dan beberapa helai pakaian kepada ibu tersebut. Kemudian Ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju Mekkah.
Demikianlah, sepanjang perjalanannya ke Mekkah Ia menjumpai orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan Ia pun tidak ragu untuk memberikan bekal yang Ia bawa. Sampai akhirnya bekalnya pun habis bahkan untuk perjalanan kembali pulang pun tidak ada. Saya tidak ingat, dalam kisah ini bagaimana Tukang Sepatu ini dapat kembali pulang ke rumahnya, tapi… Tuhan selalu beserta orang-orang yang berbuat baik, bukan? Sesampainya dirumah Ia hanya bilang kepada istri dan kerabat-kerabatnya bahwa Ia tidak sampai ke Mekkah karena Allah belum mengizinkannya. Tidak Ia singgung sedikit pun bahwa Ia telah memberikan bekalnya pada orang lain, tidak Ia ceritakan sedikit pun bahwa Ia telah membantu banyak orang selama perjalanannya. Luar biasa… inilah manifestasi “IKHLAS” yang sesungguhnya…
Akhirnya, justru orang yang tidak sampai ke Mekkah tetapi berbagi dengan sesama yang mendapat gelar “Haji Mabrur”, bukan mereka yang pergi ke Mekkah tetapi menutup mata dan telinga ketika melihat dan mendengar penderitaan dan kekurangan sesamanya, bahkan mungkin kerabat, tetangga atau saudaranya sendiri.
Coba kita bercermin, apakah saudara, kerabat, tetangga dan bangsa ini telah 100% mendapat penghidupan yang layak? Kebutuhan papan, sandang dan pangannya telah terpenuhi?
Mari kita berhitung, kuota jemaah haji Indonesia adalah 207.000 orang dengan biaya rata-rata Rp35juta per orang. Berarti total biaya yang dikeluarkan bangsa ini untuk satu kali musim haji kira-kira Rp 9,5trilliun!!! Kalau uang tersebut disalurkan kepada fakir miskin tiap tahunnya, saya percaya bangsa ini tidak akan mengalami keterpurukan ekonomi dan kesenjangan sosial akan tinggal nama saja di negri ini.
Untuk provinsi Banten saja, dengan kuota sebanyak 8541 orang tahun ini, akan terkumpul uang sebesar hampir Rp300milyar!!! Uang sebesar itu akan sangat bermanfaat untuk warga Banten yang masih hidup dibawah garis kemiskinan. Jangankan di daerah pelosok seperti Lebak atau daerah lainnya, di kota Tangerang saja masih banyak orang yang tidak bisa makan, tidak punya pakaian layak pakai, tidak punya tempat tinggal yang layak huni, tidak punya pekerjaan, dll. Dengan uang sebesar itu, berapa banyak rumah singgah yang bisa terbangun? Berapa banyak anak-anak jalanan yang tertolong? Berapa banyak anak putus sekolah akhirnya bisa sekolah lagi? Berapa banyak usaha kecil (home industri) bisa digarap dan menjadi sumber mata pencaharian yang layak? Pasti tidak sedikit kan? Apalagi kalau itu semua rutin setiap tahunnya, seperti layaknya ibadah haji. Dan, 8541 orang warga Banten mendapat gelar “Haji Mabrur”! Subhanallah… tapi jangan lupa, janganlah kita sebut-sebut peran andil kita, janganlah kita umbar partisipasi kita, dalam bentuk apa pun! Bahkan dalam hati pun jangan sampai terbersit. “Ikhlaskan saja…”
Bagaiman kalau ke-207.000 orang se-Indonesia yang berhaji dengan cara berbagi seperti si Tukang Sepatu? Uang sebesar Rp9,5trilliun akan bermanfaat untuk bangsa sendiri dan 207.000 orang Indonesia mendapat gelar Haji Mabrur! Subhanallah…
Itu jauh lebih baik kan, dari pada uang sebesar itu untuk Arab Saudi dan 207.000 orang jemaah belum tentu mendapat gelar Haji Mabrur. Tapi memang yang pasti sudah merasakan plesiran ke Arab Saudi, jiarah ke makan Rasulallah dan shalat di Masjidil Haram yang fenomenal itu dan juga pulang-pulang di panggil Pak Haji dan Bu Hajjah. Mau pilih yang mana? Kembali lagi, tergantung niat awal kita, mau mendapatkan Mabrur atau menyaksikan situs-situs Islam? Semuanya terserah Anda…


Leave a Reply