Aku Bersimpuh
Ya Allah.. long time not in touch with You in person. Rasanya susaaaah banget ambil pulpen plus secarik kertas buat curhat denganMu ya Allah.. sok sibuk nih ceritanyaa.. J
Sekarang aku mau curhat ya Allah.. soalnya, selama 30 tahun terakhir ini, seingetku cuma curhat dgnMu yang paling efektif J
Engkau yang paling tau betapa inginnya aku punya anak. Engkau juga yang paling tau kalau aku ingin punya dua anak di usia 30 tahun. Banyak yang menyangka kalo DD adalah hasil kebobolan karena aku tidak KB setelah kelahiran KK. Tapi Engkau tau kan kalo itu definitely bukan kebobolan, tapi memang aku yang menginginkan DD dan Engkau mengabulkan permintaanku.
Tapi memang sejak awal kehamilan DD, aku akui begitu banyak masalah dan cobaan menerpa diriku dan DD. Dimulai dari terserang virus typhoid di bulan pertama kehamilan yang memaksa aku di opname selama 4 hari dengan terapi obat-obatan yang kata dokter aman buat janin, tapi tetap saja bikin khawatir banyak pihak kalo obat-obatan dan virus itu bisa berefek negative terhadap DD. Modalku cuma do’a kepadaMu ya Allah.. berharap kalau semuanya tidak berimbas negative buat DD.
Di triwulan kedua, keputihan menyerangku, pelan.. tapi pasti. Ditambah dengan ketidakpedulian Rio akan penyakitku ini sampai berlanjut ke tahap infeksi. Engkau tau bagaimana aku berusaha mengumpulkan uang untuk berobat ke dokter karena aku ingin sembuh. Karena dari beberapa literatur yang ku baca dan dari konsultasi dokter, penyakit ini bisa mengganggu perkembangan janin. Kembali, aku tak henti-henti memohon kepadaMu agar tidak terjadi hal-hal yang mengganggu DD di dalam rahimku.
Mulai masuk triwulan ketiga, berbarengan dengan pindah rumah ke Perum bareng Mama, Eza & Dein, kontraksi dimulai. Aku tau itu cuma kontraksi palsu, tapi ya tetap saja sakit dan tidak bisa dihindari. Masalahnya, kenapa kontraksi justru lebih sering datang di malam hari? Di saat aku harus istirahat setelah seharian kerja, walau pun selalu dipotong untuk bikin susu KK atau anter KK pipis ke kamar mandi karena Rio lebih sering di rumah Mamih bareng sodara-sodaranya sampe pagi. Sekali lagi, aku cuma bisa berdo’a kalau semua ini adalah jalan buatku agar lebih mudah dalam proses persalinan nanti.
Menjelang cuti melahirkan, beberapa kali terpaksa aku jalan kaki dari Qadr sampe rumah karena Rio sibuk dengan sodara-sodaranya sampe lupa jemput aku pulang kerja padahal aku tidak pegang uang sama sekali dan tak ada pulsa pula. Tapi Engkau sungguh tidak pernah membiarkan semuanya terjadi dengan sia-sia. Justru moment itulah yang Engkau jadikan cara untuk aku kembali berbincang denganMu. Berbagai macam cara Engkau menghiburku selama perjalanan itu. Ya Allah.. Engkau sungguh luar biasa!! Yang sampai saat ini tak bisa luput dari mata dan otakku adalah butiran-butiran emas yang menetes dari daun-daun bambu di ujung Lippo menuju jembatan Harkit. Subhanallah… waktu itu habis hujan dan menjelang maghrib. Matahari sedang berusaha membenamkan dirinya di ufuk barat. Tapi semburat jingganya belum mau lepas dari cakrawala. Bakas air hujan yang masih bergelayut di daun bambu terimbas cahaya orange yang menjadikan air berubah menjadi tetesan emas. Kecil.. tipis.. tapi ratusan, bahkan mungkin ribuan, turun ke bumi diterpa angin ringan menjelang malam. Aku tak kuasa menahan air mata waktu itu. Siapa yang tahan menyaksikan pagelaran alam semegah itu??
Satu hal yang membuat aku sedih sesaat sebelum kelahiran DD. Rumah yang sudah aku beri label no smoking berangsung-angsur berubah menjadi smoking area. Tiga stiker yang aku tempel di tiga ruang yang berbeda, hilang satu demi satu. Awalnya karena salah satu sodara Rio bandel yang tidak perduli dengan stiker-stiker itu. Dengan cueknya dia tetap merokok tepat di bawah stiker itu. Eza protes, Mama no comment. Dan lama-lama akhirnya aku tau kalau ruang di atas sudah menjadi smoking area. Setelah itu, aku sering mencium bau rokok di ruang TV bawah dan karpet penuh abu rokok. Sekali aku tegur Rio. Teguran kedua. Ketiga. He don’t care about us anymore!! Dan akhirnya, setelah kelahiran DD, ruang tamu pun penuh asap rokok. Hampir tiap malam Rio online sambil merokok di ruang tamu. Entah dia chatting sama siapa, I don’t mind! Tapi yang bikin kesel, kenapa mesti sambil ngerokok?? Jarak ke kamar kan cuma selangkah..
Yup.. akhirnya DD lahir ke bumi. Disela-sela mules yang luar biasa, sekuat tenaga aku berkali-kali pesan ke Perawat, Bidan dan Dokter kalo aku mau IMD dan ASI Exclusive. Alhamdulillah semuanya bisa terwujud, demi kebaikan DD ku harap. Setengah mati juga aku berusaha menyediakan ASI yang cukup buat DD biar bisa exclusive selama 6 bulan pertama hidupnya. Aku berusaha disiplin memerah ASI biar produksi ASI tetap maksimal dimanapun aku berada. Aku pernah memerah ASI di gudang ATK, di toilet kantor, di toilet mushola, di toilet pom bensin, di toilet rumah sakit, di toilet gedung, bahkan pernah di dalam mobil. Semua itu aku lakukan demi terpenuhinya kebutuhan DD selama 6 bulan pertamanya. Dan alhamdulillah DD tidak pernah sakit selama 6 bulan itu dan pertumbuhannya pun diatas rata-rata normal.
Seiiring hadirnya DD ditengah-tengah kami, perlahan Rio pun kembali seperti di awal pernikahan kami. Dia mulai betah di rumah lagi dan kembali aktif berkecimpung dalam urusan rumah tangga. Cuci popok, cuci botol, bikin susu KK, jadi rutinitasnya lagi. Thanks God..
6 bulan sudah berlalu, saatnya DD memcicipi makanan pendamping ASI. Mungkin karena sudah penasaran dari tiga bulan sebelumnya, DD makan semua makanan dengan lahap. Gembul atau rakus, entah mana yang lebih tepat julukan buat DD saat itu. Karena memang DD pemakan segala dan benar-benar doyan makan. Pernah DD agak susah makan, setelah demam akibat imunisasi DPT. Itupun hanya sebentar dan kemudian kembali gembul seperti sebelumnya.
Rio pun mulai berani mandiri, lepas dari sodara-sodaranya. Meski diawal kurang percaya diri tapi aku terus menyakinkan dia kalo dia bisa dan mampu. Yang penting kita usaha dulu, jangan nyerah duluan. Alhamdulillah, Engkau beri kami kesempatan dan jalan untuk memulai langkah baru. Terima kasih Allah, atas segala kemudahan yang Engkau limpahkan.. Kami pun mulai merancang masa depan. I’m so exciting figuring out our future!! Keluarga kecil kami mulai terasa lebih hidup. Bergeliat menembus waktu. Ada rencana, ada harapan, ada jalan dan ada kemauan.
3 bulan sudah sejak kali pertama DD mulai makan. Tapi anehnya berat badannya tidak tumbuh sebanding dengan pemasukan makanan dan minumannya. Padahal DD pun tidak punya masalah dengan pencernaannya, dalam arti tidak diare atau buang air yang lebih dari normal. Akhirnya, untuk menjawab rasa penasaran kami, DD dibawa ke DSA. Dan seperti yang sudah kami kira, dokter menyarankan untuk rongent dan cek darah. Hasilnya? Ya Allah.. yang aku takutkan benar terjadi, DD mengidap TBC paru. Banyak yang bilang ini hanya flek, tapi di ilmu kedokteran tidak ada istilah itu, yang ada ya TBC paru dengan berbagai stadium. Sungguh ini pukulan yang telak buat aku ya Allah. Segala kekuatan, semua pertahanan, hancur detik itu juga.
Aku MARAH. Marah pada ketidakpedulian semua orang akan kesehatan anak-anakku. Marah pada semua orang yang dengan seenaknya menebar asap dan abu rokok di rumahku.
Aku SEDIH. Sedih kenapa anak sekecil itu harus berjuang melawan penyakit separah itu? Sedih kenapa aku diam dan tidak berbuat apa-apa disaat orang lain tidak perduli akan kesehatan anak-anakku?
Aku HANCUR. Hancur karena segala kekuatan yang telah aku bangun sejak kehamilan DD, semua yang aku perjuangkan demi kesehatan DD, ternyata sia-sia belaka.
Tiga malam terakhir ini aku habiskan dengan berurai airmata. Aku menghibah maaf dari anak bungsuku atas kegagalanku menjadi Ibu untuknya. Aku gagal memberikan yang terbaik untuknya. Tapi DD tidak bergeming, tidak pernah murung, tidak pernah loyo. Bahkan dia selalu aktif, cerah dan ceria. Tetap tidak bisa diam, malah sudah tidak mau digendong sekarang karena sedang belajar berdiri dan jalan sambil pegangan. Dokter bilang DD absolutely amazing, karena biasanya anak yang menderita penyakit ini cenderung lemas. Atas alasan itu pula dokter tidak memberi DD obat. Satu bulan ini kita coba terapi gizi, kata dokter. Karena DD doyan makan, kita lawan penyakit ini dengan protein tinggi, lanjutnya. Kalimat ini cukup menghiburku, walau sesaat.
Kemudian, malam tadi, Kau membasuh mukaku. Lembut.. dingin.. pelan.. sejuk..
ya Allah.. aku kangen rasa itu, terlalu lama aku berpaling dariMu, terlalu angkuh untuk memohon padaMu..
Kini aku tak sedih lagi, hati pun sudah tidak terbakar amarah, dan kekuatanku sudah bangkit kembali, bahkan lebih kokoh dari sebelum kehancurannya. Aku ingat, there’s no such coincident happen in life, everything happens for a reason. Aku adalah seorang Ibu. Seorang Ibu tidak boleh cengeng, Seorang Ibu tidak boleh lemah, Seorang Ibu harus bijak menyikapi segala sesuatunya.
Ya Allah.. terima kasih atas segala anugerah yang Engkau limpahkan kepada kami. Aku mohon, lindungilah anak-anakku dari segala marabahaya, baik yang datang dari kanan maupun kirinya, dari depan dan belakangnya, dari atas dan bawahnya, dari dalam dan luar dirinya. Mudahkanlah mereka dalam menyelesaikan segala urusannya. Limpahkanlah kesabaran dan kekuatan bagi mereka. Lapangkanlah hatinya, jernihkanlah pikirannya. Jadikanlah anak-anakku menjadi manusia yang tidak menyakiti dirinya sendiri dan tidak menyakiti makhluk lain. Tidak merugikan dirinya sendiri dan tidak merugikan makhluk lain. Dan ku mohon dengan sangat ya Allah.. jangan Engkau izinkan kami berpaling dariMu..
Amiin..

Leave a Reply