About ME as A Farrah
FARRAH MUTHRAFAH adalah seorang anak perempuan yang memilih dilahirkan sebagai anak pertama dari pasangan yang akhirnya menjalani hidup masing-masing; Een Nurhaeni & Achmad Fachri. Menjadi kakak dari Adam Firdaus, Reza Haidir dan Deinsyah Fakhrizal yang semuanya adalah Laki-laki. Memilih menjadi teman hidup seorang Rio Hendrawan, laki-laki yang dikenalnya pada masa SMPnya. Merasa tersanjung tak terkira menjadi Ibu dari dua jiwa; Rakazaki Putra Hendrawan dan Bimarizki Putra Hendrawan.
Sepanjang hidupnya tidak pernah menetap di satu tempat lebih dari enam tahun. Mulai dari Kalipasir, Babakan, Perum I, Perum II, Perum III, Cimone Permai, Pos Karawaci, Gg. H. Pentil Cipondoh, Perum II lagi, Gg. Sasak Cipondoh dan saat ini kembali di Perum III menempati rumah yang berbeda dari dua tempat yang sebelumnya. Semoga, tahun depan bisa menikmati hidup layak di rumah impiannya… amiiiin..
Dari kecil hobinya sekolah dan mempelajari sesuatu yang baru. TK Pertiwi menjadi gerbang yang luar biasa indah. Disitulah tempatnya belajar membaca dan menulis, menari dan bernyanyi dalam setiap kesempatan dan bermain sesuka hati.
SD Islamic Village adalah bekal dasarnya dalam mempelajari Islam dan ilmu-ilmu dasar lainnya. Walau hanya tiga tahun, Asma’ul Husna, Arab Melayu, Fiqh dan beberapa hal yang berhubungan dengan Tuhan didapat disini. Berlanjut ke SDN Karawaci Baru II, walau awalnya agak aneh karena selalu mengenakan seragam yang sama setiap hari, berbeda dengan di SD Islamic Village yang punya enam macam seragam untuk enam hari, tapi SDN Karawaci Baru II memberikan warna baru dalam kehidupannya. Pencak Silat, Lomba Senam, Lomba Upacara dan Pramuka mengajar banyak tentang kedisiplinan dan dasar-dasar organisasi.
SMP Negeri 6 dipilihnya dengan alasan yang cukup sederhana: “karena terlalu hobi sekolah, jadi, kalaupun suatu saat nanti tidak punya ongkos untuk berangkat sekolah ya masih bisa ke sekolah jalan kaki”. NEMnya cukup tinggi untuk masuk SMP manapun. Keluarga Kalipasir sampai terheran-heran mengapa SMP Negeri 1 bukan pilihannya, padahal banyak orang yang berharap masuk SMPN 1 tapi tidak cukup NEM. Ternyata, Tuhan memang punya rencanaNya sendiri, disinilah kala pertama pertemuannya dengan “teman hidup”nya.
Selepas SMP, sebenarnya, untuk memenuhi rasa hausnya akan misteri hidup, Pesantren adalah pilihannya. Tetapi, karena kendala di financial tentu saja itu hanya sebuah opsi yang tak terwujud. Untuk menjamin kelangsungan hidupnya selepas SMA, SMEA adalah pilihan yang bijak.
